30 Okt 2008

Kini Pertarungan Sunyi

Sudah terlanjur berlumut matahari terik di atas hidung dan matamu yang berlensa minus enam dan sekian.

Bekeringat deras aku dan ingin berlindung beratap hidungmu.

Apa kau tega biarkan matahari senja menukik merapatkan pori membuat cairan lemak turut membakar denyut nadiku.

Ludah getir menunggu kau gulai dengan nafasmu. Dan dinding gerigi ingin kau yang warnai. Aromamu melekat berakhir di mesin cuci setelah senyawa sunyi terulang kembali. Tercatat sebuah pertarungan sunyi bagai sepasang kelopak yang mengeliat ditolak angin Januari.

2008

gusmel riyadh

3 komentar:

Posting Komentar

TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR DI BLOG INI. APA YANG ANDA PIKIRKAN SOAL TULISAN SAYA TADI?

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More