26 Jun 2010

YAN (dari antologi cerpen Seputar Pusar)

YAN
Cerpen Gusmel Riyadh

“Hei! Sialan!”

 “Bosan hidup ya?”

“Belum pernah mampus kali!”

“Mata lu dipake, dodol! Jangan buat pajangan!”

“Kesambet setan buta apa tuli tu anak?!”

“Kurang ase…………..”

Seribu makian sekalipun tak mungkin mampu menembus otak Yan. Jangankan masuk telinga kanan keluar lewat kiri, mendekat pun tak akan sanggup. Yan yang lelaki gagah. Yan yang lelaki berpantang air mata. Yan yang murah senyum. Yan yang luka hatinya tak tersentuh sebab selalu tertutup oleh riang di lesung pipitnya. Yan yang berkaca mata plus padahal umurnya belum genap tiga puluh. Dan Yan yang kini jauh dari Yan yang semestinya berjalan sebagai Yan.

“Kau sakit?” seorang perempuan. Belum berani dipastikan kalau mereka berpacaran, sebab cara perempuan menyentuh kening Yan begitu kaku dan ragu-ragu. Tapi yang pasti mereka saling kenal. Yan menggeleng. Perempuan itu mencoba meraih tangan Yan, tapi Yan menolak.

“Aku tak apa-apa.” sergahnya.

“Jika hampir ditabrak angkot, motor, mobil, bahkan becak kau hanya diam, apa itu bukan semacam penyakit?” Perempuan itu akhirnya bersungut sambil berjalan mengikuti Yan.

“Aku hanya pening.”

“Apa pening itu mesti berurusan dengan sopir angkot yang memaki, sopir kalem pun bisa jadi menuduhmu tak waras!” ada semacam kekesalan juga melihat Yan yang periang harus nampak kusut dan menjadi mahal jawaban. Perempuan itu berlari kecil berusaha mengimbangi jalan Yan yang gontai tak teratur tapi cepat.

“Sudah makan?” tanya perempuan itu setiba di kontrakan Yan. Tak dihiraukannya bau hampir busuk yang keluar dari bagian kaki Yan, ia nekat melepas sepatu kulit bertali hitam milik Yan. 

Yan tak menjawab. Matanya tak biasanya sesayu ini. Lehernya mendongak bersandar pada kursi rotan yang hampir putus anyamannya. Lelaki itu seperti daun singkong yang usai direbus. Begitu lemas dan berair. Warna bibirnya berada pada tingkatan hampir paling bersih jika diukur dengan ukuran putih gigi.

“Minum!” perintah perempuan itu sambil menyodorkan segelas air dingin.Yan minum terpaksa. Tapi hampir habis setengah gelas.

“Pipimu merah, kau habis berkelahi? Atau kau sakit? Ke dokter ya?” 

Yan hendak bangkit tapi perempuan itu cepat mencegahnya.

“Aku bilang, aku tak apa-apa!” Yan kesal.

“Tapi kau tak terlihat seperti orang yang tak apa-apa!”

“Aku hanya lelah.”

“Berarti ada apa-apa.”

“Lelah itu biasa.” 

“Tapi kau lelah karena sesuatu hal yang membuat pikiranmu lelah. Bukan karena badanmu yang dibuat lelah oleh perjalananmu dari kantor di seberang jalan itu bukan?”

“Tadi banyak kerjaan.”

“Tak mungkin! Kau bukan pegawai yang sibuk.”

“Apa tak mungkin aku tiba-tiba sibuk?”

“Apa yang kau kerjakan?” perempuan itu ragu.

“Tak terlalu penting untukmu.”

“Tapi penting untuk ku ketahui apa yang membuat kau jadi begini."
Tiba-tiba Yan tersenyum dan berusaha girang sambil berujar, “Lupakan. Sekarang aku sudah kembali sehat!”
Ups, tapi sangat buruk. Buruk sekali.

“Aku tak bisa ditipu. Kau masih sakit dan aku harus merawatmu!”

“Berapa kali harus ku bilang, Aku tak apa-apa. Dan kau seharusnya tak perlu kupersilakan pulang, sebab kukira kau mengerti bahwa saat ini aku sedang tak ingin ditemani.”

“Kalau begitu biar kutelepon keluargamu!” perempuan hendak beranjak keluar.

“Jangan…”

“Tenang saja, aku hanya kasihan pada mereka yang tak sempat melihat wajah pucatmu sebelum kau pingsan atau bahkan mati setelahnya!” perempuan berusaha sungguh-sungguh dan Yan termakan olehnya.

“Kau ingin aku mati?” Yan mendadak bergidik. Pertanyaan yang mengandung beban takut dan penuh selidik. Cara duduknya berubah sambil ia membenarkan letak kacamatanya.

“Tidak penting kau tahu.”

“Tapi kenapa kau bertingkah seolah-olah aku betul-betul akan mati?” Yan bertanya tak yakin.

“Jangan membuatku takut!” Tambah Yan.

Perempuan itu berbalik teratur dan menahan senyum. Lantas kembali menghadap ke Yan dengan teratur pula.
“Apa kau benar berharap aku mati?” Yan mencoba memastikan.

“Jika.” Perempuan mencoba bertahan.

“Jika apa?”

“Jika kau membuatku kesal.”

“Apa pedulimu?”

Tiba-tiba perempuan itu cemberut menahan geram. Ia berlari ke dalam. Yan terperanjat. Mencoba mengikuti arah perempuan, tapi ia masih lemas. Hanya jalan sambil berpegangan pada dinding dan daun pintu yang membuat ia berhasil mendekati perempuan itu. 

Astaga! Di tangan perempuan itu berkilap sebuah pisau terhunus. Di pegang dengan kedua tangan perempuan yang gemetar dan berkeringat. Digoyang oleh tarikan nafas yang terburu-buru. Menghadap tepat di tengah belahan dada, bukan diperut. Mata perempuan itu memicing, mengancam Yan yang sedikit kaget.

“Ah, kau tak sungguh-sungguh.” Yan mencoba tenang, sambil berusaha tak peduli. Ia melanjutkan kalimatnya, ”Lagi pula itu bukan cara orang cerdas, bahkan terkesan kampungan.”Yan mencibir.

“Aku sungguh-sungguh!” perempuan membenahi letak kedua kakinya. Tangannya ditegangkan dan tarikan nafasnya semakin keras. Kulit mukanya terkumpulan pada pusaran hidung.

“Mana mungkin?” masih dengan gaya santai Yan meraih kursi makan dan mendudukinya.
“Mungkin saja. Aku akan menusuk diriku lalu aku mati di rumahmu. Orang-orang akan mengira kau membunuhku. Itu pasti. Harus pasti. Lalu kau dihukum. Bahkan tuduhan pemerkosaan bisa jadi juga………...”

Yan hanya diam. Tangannya menjadi bantal untuk kepalanya yang tak begitu berat sebenarnya. Matanya juga tak begitu cemas. Ia hanya memandang perempuan dengan dingin. Sementara perempuan itu terus bersikeras.

“………dan kau kan menjadi pesakitan. Wajahmu akan terpampang di koran-koran. Seorang pegawai yang masih lajang melakukan tindakan....” tiba-tiba perempuan itu menghentikan kalimatnya. Hening sejenak. Kemudian prempuan itu menyusuri dari ujung kaki hingga kepala Yan dengan pandangan tajamnya.

“Apa yang kau inginkan?” sebetulnya Yan setengah bingung dan mencoba menduga sesuatu, tapi ia tetap berusaha tenang.

“Kenapa diam?” Yan mulai gelisah.

“Aha, kau takut aku mati bukan?” nada perempuan itu mencandai Yan.

“Tidak juga.”Yan mengalihkan pandangan.

“Lantas kenapa kau akhirnya bertanya padaku?” Perempuan itu merasa menang.
“Hanya ingin tahu.”

“Baiklah, kuartikan keingintahuanmu itu karena kau tak ingin aku mati. Sebab kau diam-diam mencintai aku. Dan aku akan menjawabnya. Aku hanya ingin kau katakan apa yang terjadi padamu hari ini?”

“Hanya itu?” Yan ragu.

“Ya.”

“Tidak bisa!”

“Harus bisa!”

“Kenapa kau tak meminta sesuatu yang lain? Minta aku melamarmu misalnya.”

“Jadi kau ingin melamarku?” perempuan itu bersemangat.

“Tidak juga.”

“Huh!”

Lantas keduanya hanya diam. Yan seperti terbawa pada sesuatu yang jauh. Pandangannya begitu jauh. Menembus benda-benda yang tampak di depannya. Tapi tak jelas apa yang sedang dibayangkannya. Mungkin sesuatu yang buruk sebab matanya berkaca.

Begitu juga dengan perempuan itu. Ia juga membayangkan sesuatu, tapi senyumnya melebar. Mungkin hal baik. Tapi tiba-tiba wajahnya berubah cemberut ketika ia menatap Yan dan seketika itu juga sadar dari lamunannya.

“Aku mati saja.” Perempuan itu kembali mengarahkan pisaunya ke dadanya sendiri. Yan ikut tersadar karenanya.

“Silakan.”

“Apa??” setengah berteriak perempuan itu betul-betul kesal.

“Kenapa? Kenapa tak jadi kau lakukan?” Yan mencoba mengejek.

Perempuan itu melemah menahan kesal. Ia menyerah pelan-pelan. Matanya berangsur-angsur sayu mengimbangi kelopak hidung yang kembang kempis tak berirama. Dari masing-masing ujung mata, sedikit demi sedikit air melongok keluar. Mengalir membentuk jalur tertentu di kedua pipinya yang tertarik oleh mulutnya yang tertekan ke belakang. Tegangan di tangannya menurun. Pisau itu tak lagi terlihat berbahaya. Hanya susunan logam biasa yang bergerak turun ke arah perut. Sama sekali tak bertenaga dan mungkin akan jatuh. Tapi kejadian ini berlangsung pelan-pelan. Sangat mengalir. Tidak ada kata tiba-tiba di sini.

Pada saat mata pisau itu sampai pada arah yang sekiranya tepat di pusar perempuan itu, tiba-tiba gerakan melemah itu berhenti. Sekarang sangat tiba-tiba. Yan tiba-tiba gugup. Lipatan tangan di belakang kepalanya sudah terurai. Matanya cemas mengawasi dan menduga apa yang akan terjadi. Bola matanya bergerak bergantian antara memandang mata pisau dan pusar. Lebih tepatnya, sekiranya itu pusar. Sebab tentu saja tertutup oleh baju terusan yang dikenakan perempuan itu.

Mata Yan melotot. Nafasnya berlomba dengan degup jantung yang sangat jelas menggerak-gerakkan kemejanya. Tubuhnya tegang dan bergerak patah. Perempuan itu juga panik dan tiba-tiba bingung. Ia memandang Yan dan mata pisau itu bergantian juga. 

Yan kalut, ia mendekati perempuan itu tapi tak bisa. Ia masih lemas dan pucat. Sedang si perempuan setengah takut tapi tak berusaha melepas atau membuang pisau itu. Mereka saling bergerak. Yan lebih kacau ia berteriak tertahan.

“Jangan! Jangan! Jangan pusar itu...!” Perempuan itu semakin bingung. Kini ia berganti memandang pusarnya sendiri. Kali ini lebih tepat, sebab pusar itu adalah bagian dari tubuhnya. Tentu ia hapal di mana letaknya. Tapi Yan semakin buas. Ia mencoba mengejar perempuan. Tak ingin dicapai lantaran takut yang bercampur bingung, perempuan itu menghindar dan bergerak mengitari meja makan menjauhi Yan.
Yan tak terkendali. Ia mengamuk sambil terus menggeram.

“Jangan…jangan…jangan, pusar itu….”

Tangan Yan hendak menerkam si perempuan. Tapi pisau itu…..

***
“Siapa yang sakit, Neng?”

“Mas Yan. Tangannya tergores pisau. Eh, obat merahnya yang botol besar aja Mang.”

Waktu perempuan itu akan membayar belanjaannya, gerakannya tertahan ketika melihat dua perempuan yang ia tahu mereka satu kantor dengan Yan. Mereka memang berdandan ala orang kota dan sedang membicarkan sesuatu yang agaknya sengaja dikeras-keraskan.

“…masa tiba-tiba ia langsung ngelamar gitu deh, Jeng. Kalau borju sih masih bisa gue pikir dulu. Lha dia? Udah dandannya kampungan, gayanya juga udik banget. Terus bawahan gue pula. Kaca matanya tahu nggak, Jeng? Oemar Bakri banget! Haa.ha..ha” perempuan yang bercerita itu begitu geli. Dan yang di ajak bicara juga membalas dengan gelak tawa yang luar biasa sambil sesekali melirik ke arah perempuan yang sedang berbelanja untuk Yan.

“Lucunya lagi Jeng, pas tak tanyain ‘emang apa dasar situ berani-berani ambil kesimpulan kalau saya mesti jadi istri situ’ apa coba jawabnya?” perempuan yang diajak bicara hanya menggeleng antusias. Perempuan yang bercerita mengganti gayanya seperti menirukan seseorang.

“Tapi sebelumnya maaf ya,Bu?..ehm..ehm..”

“Apa sih?” yang di ajak bicara tak sabar.

“Ehm…saya tadi terlanjur melihat it.. it.. itu Ibu, sewaktu Ibu mengambil buku di rak.” Tangan perempuan itu menunjuk ke arah pusar rekannya. Kontan mereka berdua kembali terbahak-bahak.

“Plak! Gue gampar aja pake map muka tu orang.” Mereka melanjutkan tawa lagi.

“Mang, ini nggak jadi aja. Minta obat pusing aja lima.” perempuan yang berbelanja untuk Yan cepat-cepat membayar dan pulang. Entah kembali ke rumah Yan atau ke rumahnya sendiri.
Untuk Yan, tetanggaku.

Karanganyar, 5 Juli 2008

Juga dimuat dalam antologi cerpen Seputar Pusar (Kelindan, 2008)





5 komentar:

hanya bisa katakan.
loh.

mungkin Anda butuh software atau mau download film silahkan kunjungi http://abdoelcharies.blogspot.com/, semoga bermanfaat

Yan akan selalu hidup

Yan, mmm pasti itu pak baYan to mas ??

Posting Komentar

TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR DI BLOG INI. APA YANG ANDA PIKIRKAN SOAL TULISAN SAYA TADI?

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More