11 Apr 2010

Alvian Dwi Andryanto

Masih ingat tentang resolusi saya di tahun 2010? Inilah orang kedua yang akan saya tulis. Dan tentunya saya telah mendapatkan ijin untuk menulis tentang dia. Mari kita simak saja.

Adalah Alvian, Alvi, Vian, Alvian Dwi Andryanto. Saya masih ingat betul ketika pertama kali bertemu dia. Di depan Gedung D3 FE UNS, dia ikut casting salah satu pentas Teater Gadhang, judulnya Egon. Tapi naskah tersebut gagal pentas.

Alvian, ketika itu dia sangat buruk sekali melafalkan dialog-dialog dalam naskah. Dia sangat polos waktu itu. Di awal masuk Gadhang, Alvian sering kena keusilan Trio Gemes (Gembul Melon Site). Jadi bahan ledekan karena (entah karena apa) dia begitu penurut.

Alvian cepat dewasa di Gadhang, kepolosoan itu hanya sementara. Dia cerdik dan bertekad kuat. Ia sudah berani mebuat naskah sendiri untuk monolognya sendiri. Saya menontonnya waktu itu. Ada semacam energi besar yang saya tangkap dari kegigihannya. Kemudian saya memutuskan untuk memberi perhatian khusus padanya. Beberapa kali saya ajak main dalam naskah yang saya garap, jadi tokoh sentral. Saya berharap, dia menjadi sutradara yang baik. Berkali-kali saya bilang padanya, tontonlah pertunjukan. Saya tak dapat menularkan ilmu banyak. Sebab memang saya tak punya ilmu yang banyak. Hanya menonton teaterlah pilihan satu-satunya untuk bahan pembelajaran.

Tapi tampaknya, rencana saya agar Alvian dapat menjadi Gadhang yang baik tak berjalan sesuai yang diharapkan. Kriteria baik di sini menurut saya adalah tidak begitu saja meninggalkan Gadhang setelah lulus kuliah. Menyempatkan diri untuk menularkan ilmunya ke adik-adik Gadhang. Namun, Alvian mungkin akan memilih seperti kakak-kakak Gadhang yang lain (kecuali Mas Sugenk, Mas Bujang, dan Mas Dolly), lulus dan menghilang.

Memang benar, lulus dan bekerja untuk hidupnya sendiri itu sama sekali bukan suatu pilihan yang salah dan buruk. Sebuah kewajiban untuk menjadi anak yang baik bagi orang tuanya mungkin. Namun, bukan Gadhang yang baik. Hanya sebuah sebutan: bukan Gadhang yang baik.

ROSYID (kiri) dan ALVIAN (kanan)
Ketika dia saya lihat telah menemukan suatu pilihan, maka Alvian begitu berbeda. Kini dia sangat profesional. Tentu ini akan berpengaruh pada rasa sosial dia. Alvian sang manusia modern. Mungkin sebutan itu cocok dari pada saya harus menyebut Alvian sebagai manusia yang termakan modernitas. Kini Alvian menjalani hidup sebagai manusia yang lumrah pada saat sekarang ini, yaitu manusia yang bekerja untuk uang, bukan uang yang bekerja untuknya. Ini sah dan boleh, bukan hal yang buruk. Hanya eman-eman saja seorang Alvian harus memilih demikian.

Alvian yang baik hati dan pengertian dulu kini menjadi Alvian yang "baik,tapi..." dan "pengertian, karena.."
Ah, perubahan memang menjadi hal yang lumrah. Seperti saya selalu bilang, HIDUP ITU IMPROVISASI.

Saya hanya berharap, kelak Alvian bisa menjadi manusia yang tak bekerja untuk uang, tapi sebaliknya. Saya yakin dia mampu dan layak. Untuk itu, dalam catatan ini, agar bisa menandai sejauh mana improvisasinya nanti, maka saya mengunci beberapa perbincangan saya dan dia pada suatu malam. Suatu saat, ketika dia mencapai atau tidak mencapai impian-impiannya itu dalam proses improvisasi, dia akan membaca perbincangan ini lagi.

Gusmel (G) dan Alvian (A)

(G) : Alvian apakah km sedang punya sedikit waktu untuk ngobrol-ngobrol melalui sms?
(A) : Ada apa mas? Tapi balasku agak lama gimana? Soanya aku lagi nyinom, hehehe...

(G) : Tak apa, aku akan bersabar. Sekarang sedang sibuk apa selain nyinom?
(A) : Menunggu pendadaran dan seperi biasa mengantarkan rombongan tour.

(G) : Rencana setelah lulus?
(A) : Bekerja mencari modal dulu untuk mempekerjakan SDM yang ada di Indonesia.

(G) : Wow, kau bersemangat sekali ya?
(A) : Haruslah mas, walaupun terkadang mblendek. Toh semua butuh proses yang tidak mudah.


(G) : Adakah sesuatu yang sempat mengganggumu ketika akan mencapai keinginanmu itu?
(A) : Untuk sekarang belum ngerti mas, kan belum pendadaran. Jadi nunggu ujian dulu dan lulus. Pembagian waktu mungkin.

(G) : Bukankah kamu orang yang taat jadwal? Seharusnya untuk orang sepertimu, waktu tak jadi soal besar.
(A) : Bukan ‘masalah’ tepatnya mas, tapi pembagiannya. Contohnya, Rabu (7/4) kemarin aku ke Bali baru balik Solo tadi pagi (11/4). Padahal Jum’at (9/4) Rosyid (sahabat dekat Alvian-gus) maju pendadaran dan Sabtu (10/4) ada rapat Peksiminas. Aku nggak bisa datang padahal aku panitia.
Nah, gambarannya begitu mas. Membagi waktu dimana semua aktifitas menjadi penting. Terkadang aku bingung, tubuh dan otak kan hanya satu. Hehehe....

(G) : Aku juga sering mengalami hal itu. Tapi setidaknya kamu lebih beruntung, waktumu kau bagi untuk hal-hal penting. Sedangkan aku terkadang harus membagi waktu untuk hal-hal yang tidak penting (menurutku). Lalu gimana mengatasi masalahmu itu?
(A) : Menurutku sekarang dilihat dulu dari besar tanggung jawabnya mas. Kalau soal rapat kemarin, Alhamdulillah tugasku sudah kelar, jadi tinggal laporan lewat sms. Pendadarannya Rosyid, aku wakilkan cewekku yang datang walaupun nggak enak sama Rosyid.

(G) : Sederhana ya? Lalu bagaimana dengan soal percintaan? Apa sempat menjadi hal yang mengganggu?
(A) : Berhubung cewekku sekarang mengerti keadaanku, jadi nggak begitu bermasalah buatku. Tapi ngak tahu biuat dia, apakah bosan sama aku gara-gara sering kutinggal atau gimana, tanya ke Ihda langsung aja mas, hehehe...

(G) : Aku belum ingin menulis tentang Ihda, ini tentang kamu. Apa semangat hidupmu juga dipengaruhi oleh cinta? Jika iya, seberapa besar?
(A) : Pastinya dong. Cinta kalau dipersenkan sekitar 10% lah, dari keluarga, sahabat, temen, dan semuanya lah. Kalau dibagi kan sedikit-sedikit mas, hehe...

(G) : Dengan adanya masalah pembagian waktu tadi, apa yang akan kamu lakukan untuk mencapai cita-citamu di awal perbincangan tadi?
(A) : Secepatnya menyelesaikan kuliah, sekarang masih menunggu jadwal pendadaran keluar. Setelah lulus baru mencari pekerjaan. Amin.

(G) : Anggap saja kamu lulus (dan pasti lulus dong). Lalu apa masih ada maslah dengan pembagian waktu?
(A) : Mungkin kalau sudah kerja, nggak mau Cuma 1 kerjaan saja. Aku tetap mencari kerjaan atau melanjutkan kerjaan sampinganku menjadi tour leader. Jadi kelak, mungkin waktu lagi permasalahan.


(G) : Nggak takut jadi workaholic?
(A) : Maksudnya pekerja keras mas? Nggak masalah buatku. Toh sebagai lelaki, kelak aku akan menjadi pemimpin keluarga dan membahagiakan mereka. Jadi bekerja dulu sampai badan benar-benar nggak kuat, baru menikmati hasilnya.

(G) : Beda kali. Workaholic itu gila kerja, bisa lupa bahwa tubuh pun butuh refreshing.
(A) : Oh, kalau itu Insya Allah tidak mas. Apa gunane kerja kalau hasile Cuma ditumpuk? Kapan menikmatinya? Refreshing tetap harus lah. Toh masih ada keluarga (teater) Gadhang juga to? Hehe...


(G) : Ada mimpi besar?
(A) : Ada mas, tapi jangan diketawain ya? Aku pengen punya biro travel sendiri. Terus punya bus sendiri, umum dan pariwisata, dan terakhir punya perusahaan forrwarding dengan cabang di Asia. Hahaha, apik toh?

(G) : Sip. Ada kalimat penutup untuk mengakhiri obrolan kita malam ini?
(A) : Terimakasih buat sutradara, aktor, penulis, guruku teater yang bersedia menulis tentangku walaupun aku belum menjadi apa-apa, hehehe...

(G) : Ah, kalimat penutup yang buruk, tapi tetap terimakasih. Selamat malam.

Nb dari Alvian: semua kritikan tetap saya terima, mas. Jadi kalau ditanya orang-orang seperti kamu, jawabannya akan kuubah, hehehe...
Alvian tak perlu aku menjadi Alvian yang dulu. Berimprovisasilah.

Alamat Facebook Alvian di Sini

12 April 2010



12 komentar:

widih... bahasamu mas...mas...
pengin dadi wartawan ta.... ck..ckcc

Berimprovisasi......

Pemain sinetron ya alfian itu?

Salam kenal pak, kunjungan perdana saya rupanya ya hehehe

HIDUP ITU IMPROVISASI....===>like this heehhehe :D

@Nanikajja: wartawan blog.. hehehehe

@vian: ingat2 itu.

@yangputri: iya pemain sinetron.. Salam kenal juga :)

@Ulie: maturnuwun...

mz gusmel kalo zmzan sm mz alvian bahasanya resmi bgt ya???

mas...udah brapa anak gadhang yg kau tulis???

salamin buat alvian... dari indrahuazu yang ganteng...

selamat berimprovisasi gan

Sesl: ini untuk kebutuhan khusus kok mbak.. :)

Lely: banyak sebenarnya, tapi di tahun 2010 ini Alvian yang pertama.

Indra: salam balik katanya.. :) dan akan berkunjung balik.. hehehe

tapi kalo aslinya ndak resmi2 kayak gtu ya mz???

sesl: aslinya yang bagaimana maksudnya? aklo sms aku memang sering berbahasa seperti itu. kalo ketemu paling cuma berantem. hehehe

sesl: kaumdarurat like you

Posting Komentar

TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR DI BLOG INI. APA YANG ANDA PIKIRKAN SOAL TULISAN SAYA TADI?

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More