11 Des 2009

Kalo Begini Caranya Saya Pilih Masuk Neraka Saja! (Menonton Teater Delik)

Huis Clos (No Exit)
Laboratorium Seni Teater Delik Fakultas Hukum UNS, 10 Desember 2009, Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah berhasil menyuguhkan sebuah PINTU TERTUTUP atau dalam bahasa aslinya “Huis Clos (No Exit)” karya Jean Paul Sartre, dengan Sutradara Nanang Fao Rino dan Assisten Sutradara Retno Denok.


Kenapa Saya Mengajak Masuk Neraka?
Ah, ini hanya pikiran nakal saya. Saya bisa berkata demikian karena dalam pertunjukan semalam, neraka ternyata tidak seperti yang nenek saya bilang, penuh alat penyiksaan. Tapi ternyata ada dua perempuan. Satu istri bangsawan dan satunya lagi lesbi. Ada juga laki-laki, katanya sih sastrawan merangkap wartawan.
Begini cuplikan dialognya:

Aku tak pernah mengira begini. Ingatkah, apa yang diceritakanpada kita tentang macam-macam siksaan di sini? Cerita nenek-nenek. Buat apa besi rajam menyala? Tidak perlu sama sekali. Neraka adalah orang lain.”

BB18+
Saya rasa disini menjadi titik penolong pertunjukan yang (barangkali) menjadi menarik. Sutradara Nanang Fao Rin dengan sangat berani menyuguhkan adegan-adegan hampir ciuman yang menjadikan pertunjukan ini BB18+. Adegan pelukan juga digambarkan secara gamblang. Dan uniknya pemain kelihatan 'matang' dalam adegan ini. Tanpa rasa canggung dan sangat menikmati. hehehehe.. *Latihannya gimana ya?*


Eh, Ada Salsa!
Teater Delik mewarnai pertunjukan semalam dengan sepasang orang berdansa salsa yang cukup menyita perhatian saya. Kemudian saya jadi tertarik unutk belajar tarian ini. Mungkin yang menjadi masalah adalah: siapa pasangan saya?


SINOPSIS
Sejujurnya saya tidak dapat mengikuti pertunjukan ini dengan nyaman karena situasi penonton yang kurang kondusif. Banyak orang berlalu lalang di tengah pertunjukan. Jadi saya hanya bisa menyertakan sinopsis ini untuk menjelaskan kepada anda tentang Pintu Tertutup.

"adalah suatu potert kecil sebuah neraka yang timbul akibat egosentris yang muncul dari para penghuni yang tinggal di dalamnya. keegoistikan yang muncul dari setiap penghuni menjadi sesuatu alat penyiksa yang paling sempurna. Sehingga semuanya melambangkan manusia yang seakan-akan dikodratkan menempati sebuah ruangan yang tertutup dan terbatas, memuakkan, tanpa cermin, tanpa jendela."
Begitu yang tertulis di leaflet.
 

0 komentar:

Posting Komentar

TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR DI BLOG INI. APA YANG ANDA PIKIRKAN SOAL TULISAN SAYA TADI?

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More